Jumat, Agustus 29, 2008

Pentingnya pendidikan

Sejak kecil biasanya siswa diharapkan untuk mempunyai nilai yang bagus di sekolah. Setelah siswa lulus sekolah, mereka diharapkan untuk mendapatkan pekerjaan yang dapat pembantunya meraih “masa depan yang cerah” dan gaji yang tinggi. Banyak orang tua, bahkan para guru, berpikir bahwa nilai tinggi dan lulusan sekolah merupakan jaminan untuk mendapatkan pekerjaan dan kesuksesan dalam karier.

Kenyataan ini memang tidak dapat disangkal. Kemampuan dan nilai akademis yang tinggi dapat membuka banyak pintu bagi kesuksesan seseorang. Akan tetapi, kenyataannya, baik dalam dunia kerja, pribadi, maupun proses belajar mengajar, kemampuan kecerdasan emosional (emotional intelligence) sangat berperan untuk mencapai kesuksesan seseorang. Lapangan kerja yang semakin kompetitif dan spesialis, membuat tidak seorang individu atau institusi mana pun yang dapat mencapai tujuan mereka tanpa harus bekerja sama dalam tim karena setiap orang dipaksa untuk bekerja sama dengan orang lain.

George Lucas, chairman PBS Foundation, mencontohkan bahwa dalam pekerjaannya di bidang pembuatan film, mereka membutuhkan orang-orang yang berbakat dengan keterampilan teknis yang kuat, tetapi kemampuan untuk berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain tidak kurang pentingnya. “Salah satu hal yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam mempersiapkan anak didik ke dunia nyata ialah dengan mengajarkan mereka kemampuan kecerdasan emosional,” ujarnya menambahkan.

Lalu, apa itu kemampuan kecerdasan emosional? Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosi, baik emosi dirinya sendiri maupun emosi orang lain, dengan tindakan konstruktif, yang mempromosikan kerja sama sebagai tim yang mengacu pada produktivitas dan bukan pada konflik.

lengkap

Kebijakan pendidikan

Ada dua artikel di Kompas tanggal 13 Februari 2008 yang menarik perhatian saya sehubungan dengan kebijakan pendidikan di Indonesia. Yang pertama adalah dileburnya sejumlah program studi spesifik menjadi satu program studi umum* (maaf, saya tidak menemukan artikelnya di situs Kompas). Yang kedua adalah ditutupnya 113 program studi di 64 perguruan tinggi.

Kedua artikel tersebut menyebutkan beberapa alasan sehubungan dengan kedua keputusan tersebut, yaitu:

  • rendahnya tingkat penyerapan lapangan kerja bagi lulusan program studi spesifik,
  • minat calon mahasiswa untuk sejumlah program studi spesifik tersebut relatif rendah, dan
  • jenuhnya pasar terhadap lulusan program itu.

Sejumlah program studi spesifik yang dilebur menjadi satu adalah Teknologi Tekstil, Teknik Tekstil, Teknik Kimia Tekstil, dan Teknologi Kimia Industri yang dilebur menjadi Teknik Kimia. Padahal industri tekstil merupakan salah satu industri yang memberikan kontribusi tinggi terhadap ekspor negara, walaupun masih dalam batas produksi. Bahkan menurut Detik Finance (23 Oktober 2007) turunan industri tekstil, yaitu fashion, memberikan kontribusi paling besar (30%) terhadap perkembangan industri kreatif yang secara total memberikan kontribusi ekspor sekitar 7%.

Menanggapi penutupan 113 program studi,

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengatakan, penutupan program studi sangat tergantung dari analisa perguruan tinggi.

Padahal apabila kita belajar dari India, munculnya Bangalore sebagai pusat perkembangan teknologi informasi di negara itu, menurut Joseph Stiglitz dalam bukunya “Making Globalization Work” (2006), tidak terlepas dari pendirian Indian Institute of Science di kota itu pada tahun 1909 secara khusus, dan investasi, kebijakan, dan arahan fokus pengembangan pemerintah India pada bidang pendidikan secara umum sejak beberapa dekade terakhir.

lengkap:

Jumat, Agustus 22, 2008

Kesadaran Umum Masalah Pendidikan

Tanpa adanya perubahan sistematik dan mendasar dalam logika akal sehat pendidikan di negara ini, kita akan semakin jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain. Kalau pendidikan di negara kita masih ribut soal seragam dan buku pelajaran setiap tahun, substansi pendidikan akan tergerus secara perlahan, namun pasti oleh pergulatan kepentingan orang-orang di luar pendidikan itu sendiri.
Logis dikatakan pendidikan kita semakin tertinggal sebab pergerakan perkembangan pendidikan di berbagai belahan negara lain terus maju ke depan seiring dan bahkan ingin mendahului pergerakan zaman. Kita juga bergerak, tetapi dapat disaksikan betapa lambatnya kemajuan pendidikan di negara kita, kalau tak ingin dikatakan stagnan sama sekali, atau bahkan mundur ke belakang. Kita mungkin terlalu sering membicarakan pendidikan, tetapi merasakannya sebagai sesuatu yang ”baik-baik” saja.
Nasib pendidikan di negara ini semakin terpuruk karena terlalu banyak yang dibicarakan tidak terkait dengan substansi pendidikan itu sendiri. Pentingnya pendidikan bagi masa depan bangsa belum menjadi kesadaran umum, tetapi hanya menjadi kesadaran pribadi-pribadi. Belum menjadi pikiran utama para elite pengambil kebijakan, tetapi hanya sebagai sarana perebutan proyek.
Bangsa yang maju tidak bisa dipisahkan dari cara pandang dan berpikirnya dalam rangka untuk menempatkan kemajuan pendidikan sebagai tujuan pokok kebangsaan. Pendidikan adalah kekuatan pembentuk masa depan, karena ia merupakan instrumen yang mampu mengubah sejarah gelap menjadi terang atau sebaliknya.
Pendidikan merupakan investasi kemanusiaan karena di sanalah masa depan peradaban ini dipertaruhkan. Kini persoalan terbesar kita adalah bagaimana menyesuaikan serta merancang cara berpikir dalam dunia pendidikan menghadapi perubahan dunia yang kian kompleks, berubah cepat, sangat sulit diramalkan.
Dalam hal ini, kita perlu belajar dari Seven Complex Lesson in Education for the Future. Ini mengingatkan kita agar merumuskan kembali cara mengelola sebuah pengetahuan. Pemikiran jauh ke depan diperlukan untuk membangun kembali fondasi pendidikan guna mengembalikan pendidikan kepada visi dasarnya.

selengkapnya :
sinarharapan.co.id

Rabu, Agustus 20, 2008

Penguasaan Iptek Menjadi Kunci Utama

Lemahnya sistem pendidikan menjadi salah satu faktor rendahnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di tengah kemajuan peradaban Barat, kita harus sibuk membenahi sistem pendidikan. Latar belakang pendidikan yang pas-pas diduga kuat membawa implikasi negatif pada cara pandang terhadap syariat Islam. Ajaran Islam Islam yang memiliki cakupan luas, oleh sebagian pihak disempitkan maknanya menjadi “syariat Islam” dan kemajuan peradaban lain dimaki-maki. Sementara ajaran-ajaran yang membawa kesejahteraan umat hampir tidak dikatakan sebagai syariat. Semua problem sosial, pemikiran, dan pola gerakan keagamaan umat yang emosional harus dibenahi melalui pendidikan.

Berikut perbincangan Reporter CMM Ian Suherlan dan Yulmedia dengan KH. Dr. Tarmizi Taher, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) beberapa waktu lalu:

Adanya sebagian umat Islam yang menyempitkan ajaran Islam menjadi syariat dan syariat dimaknai sebagai hukum jinayah (pidana). Mengapa demikian?
Itu karena keterbatasan pemikiran yang bermula pada keterbatasan pendidikan atau hanya mempelaari pendidikan sepihak. Kita ingin mengajarkan sains dan teknologi tapi bernapaskan Islam. Anaknya hafiz al-Quran tapi mampu mengaplikasikan itu kepada kehidupan nyata. Sekarang ini banyak sekali umat Islam yang berpikiran sederhana. Jadi pada waktu kita mendengar omongan mereka (tentang ajaran Islam disempitkan menjadi syariat dan jinayah) kita akan berpikir mereka orang bodoh semua. Contoh hujatan yang meminta sistem Khilafah diterapkan kembali agar semua masalah dapat diselesaikan. Demokrasi haram, dan sebagainya.
Jadi, pandangan semacam itu dalam istilah ilmu pemikiran, sangat simplistis (sangat sederhana). Di beberapa tempat orang–orang yang memuja-muja kejayaan masa lalu itu dilarang, karena ini akan membodohi rakyat. Jadi sekarang kita menginginkan seorang pemikir Islam yang dasar agamanya kuat tapi dia bukan ahli agama, dia melihat al-Quran berdasarkan sains dan teknologi itu. Itu yang kini kita ketinggalan. Padahal pada zaman Nabi umat Islam menguasai hal itu.

Mungkin semua itu disebabkan karena sistem pendidikan yang lemah. Bagaimana wajah pendidikan kita dewasa ini, terutama di Malaysia dan di Indonesia?
Ketika saya di Malaysia, saya langsung bertanya pada Bapak Mahatir, dulu guru-guru tingkat SMA diimpor dari Indonesia, tapi sekarang mereka justru jauh di depan kita. Ternyata Malaysia sudah sejak lama meletakkan pendidikan sebagai prioritas APBN-nya (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) dan itu sudah berjalan dalam pemerintahan. Sebelum menjadi Perdana Menteri seseorang itu harus dijabatkan sebagai menteri pendidikan. Jadi mereka benar-benar membina sistemnya, anggaran, dan terakhir praktiknya dicoba selama satu periode. Kita bisa melihat para Perdana Menteri Malaysia merupakan orang-orang yang berhasil menjadi menteri pendidikan. Indonesia tidak punya sistem. Menteri yang punya kinerja yang baik, tapi tim penilainya tidak ada.

Sejauh yang Bapak amati bagaimana basis dan pembelajaran agama selama ini?
Menurut saya pendidikan agama itu tidak mengkin kita peroleh di sekolah saja. Oleh karena itu, sekolah–sekolah yang berbasiskan sains dan teknologi dan taman baca Al-Quran harus diberikan asrama. Jadi kita selama ini membuat sekolah yang berasrama itu hanya pesantren. Sekarang ada perkembangan yang cukup menggembirakan, mahasiswa sekolah-sekolah umum memberikan fasilitas asrama seperti pesantren dan itu bukan anak IAIN melainkan fakultas kedokteran, teknik dan sebagainya.

Bagaimana program ke depan dalam program pemantapan pendidikan Islam?
Kita akan membuat sekolah model, yang unggul dalam bidang sains dan teknologi. Tapi anak ini sebelum umur tujuh tahun sudah hafal al-Quran, jadi anak-anak ini cerdas intelektual, tapi aplikasinya dalam sains dan teknologi. Umat Isam pada awal perkembangan Islam memberi sumbangan yang besar dalam bidang sains dan teknologi seperti Ibnu Sina, ahli-ahli astronomi dan sebagainya.

Di tengah kemajuan peradaban Barat ada sebagian kelompok yang cenderung hanya memaki-maki atau cemburu tanpa ada perubahan?
Menurut saya, kita biarkan saja mereka berteriak-teriak. Apakah mereka yang berkoar-koar itu akan berhasil atau kita yang secara sistematis bisa membangkitkan kembali peradaban Islam di bidang intelektual. Sebenarnya Islam tidak pernah memaki-maki saudaranya. Mari kita tunjukkan rahmat bagi mulianya Islam bukan laknat bagi dunia Islam. Sekarang kita bisa lihat dunia Islam terkoyak-koyak hanya karena perbedaan Syiah dan Sunni.

Apakah sikap reaktif itu ada korelasinya dengan latar belakang pendidikan?
Benar. Orang yang berpendidikan tidak akan menghalalkan segala cara, namun dia akan berusaha terlebih dahulu. Mereka yang berpendidikan tentu saja akan menempuh cara-cara yang beradab, tanpa perlu marah-marah. Cara-cara-cara yang santun saya kira akan memiliki prosfek yang cerah. Semua langkah ke arah yang lebih baik saya kira harus ditempuh dengan cara yang baik. Ini memang perlu waktu yang lama dan kita dituntut agar bersabar dalam merintis masa depan yang lebih baik itu.(CMM)

Lengkap di:
www.cmm.or.id
SEJARAH PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA

Perguruan tinggi yang dewasa ini telah mencapai bentuknya yang mapan dan lengkap sebagai universitas, dengan pilarnya kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik, otonomi keilmuan dan pengelolaan, telah memiliki riwayat yang amat panjang. Embrionya telah muncul di Eropa sejak kurang lebih 400 tahun sebelum masehi, dimulai oleh filosof Plato dengan Taman Academosnya di jaman Yunani purba. Jadi sudah lebih dari 2000 tahun.

Di Indonesia, sejarah ini belum terlalu panjang. Bila Universitas Gajah Mada (UGM, berdiri tanggal 19 Desember 1949) di Yogyakarta dan Universitas Indonesia (UI, berdiri 2 Februari 1950) di Jakarta dianggap sebagai perguruan tinggi tertua, maka catatan ini baru berumur puluhan tahun, walaupun embrio UI sudah ada sejak STOVIA (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen) di Batavia tahun 1900-an.

Tahun 1870, pemerintah Belanda memberlakukan apa yang disebut Etische Politiek di Hindia Belanda, yaitu suatu perubahan sikap Belanda terhadap koloninya karena merasa berhutang budi kepada bumi putera yang telah menyebabkan Nederland dapat membangun dan menjadi makmur. Hal ini didorong oleh paham liberal yang melanda Eropa dengan motonya liberty, egality, dan fraternity yang berdasar pada humanisme.

Program educatie, irigatie, dan emigratie yang dimaksudkan untuk meningkatkan partisipasi bumi putera (koloni lebih menghasilkan/produktif) mendorong timbulnya sekolah yang semula hanya untuk belajar membaca, menulis, dan menghitung. Untuk menangani pabrik dan perkebunan modernnya, Belanda merasa perlu membuka sekolah tinggi yang kemudian menjadi cikal bakal berkembangnya fakultas-fakultas di Jakarta.

Bermula dari bidang kesehatan, pada tahun 1902 didirikan STOVIA (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen) yang kemudian menjadi NIAS (Nerderlandsch Indische Artsen School) tahun 1913 dan GHS (Geneeskundige Hoge School) sebagai embrio fakultas kedokteran. Kemudian disusul dengan berdirinya Rechts School tahun 1922 dan menjadi Rechthoogen School tahun 1924 sebagai embrio Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Di Jakarta tahun 1940 didirikan Faculteit de Letterenen Wijsbegeste yang kemudian menjadi Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia.

Di Bandung tahun 1920 didirikan Technische Hoge School (THS) yang pada tahun itu juga dijadikan perguruan tinggi negeri. Sementara di Bogor juga didirikan Landsbouwkundige Faculteit pada tahun 1941 yang sekarang disebut Institut Pertanian Bogor (IPB).

Dua hari setelah proklamasi, tanggal 19 Agustus 1945, pemerintah Indonesia mendirikan Balai Perguruan Tinggi RI yang kemudian mendorong berdirinya Universitas Indonesia yang pada dasarnya merupakan gabungan dari fakultas-fakultas yang telah ada sebelumnya.

Sementara itu di dalam masa perjuangan melawan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, pemerintah RI di Yogyakarta bekerja sama dengan Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada pada tanggal 19 Desember 1949 mendirikan pula Universitas Gajah Mada. Pada awalnya Fakultas Hukum dan Kesusasteraan bertempat di pagelaran dan baru kemudian berangsur-angsur pindah ke kampus Bulak Sumur.

Dengan perkataan lain, modal berdirinya universitas atau perguruan tinggi di Indonesia adalah Universitas Indonesia di Jakarta dan Universitas Gajah Mada di Yogyakarta. Kemudian dari dua universitas ini dikembangkan menjadi lima dengan hadirnya Institut Teknologi Bandung (ITB-1959), Institut Pertanian Bogor (IPB-1963), dan Universitas Airlangga (Unair-1954) yang masing-masing berdiri sendiri.

Untuk perguruan tinggi swasta, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang berdiri tahun 1948 merupakan perguruan tinggi swasta pertama dan paling tua di Indonesia.

Lengkap di:
www.pts.co.id
Created By SoraTemplates | Distributed By MyBloggerThemes